SAATNYA BELAJAR HIDUP MANDIRI


P1050184Kebersamaan hidup tidak selamanya berjalan bersama hingga akhir ajal. “Sehidup semati” adalah kesepakatan  dia dan aku yang merupakan kesepakatan awal. kesepakatan itu tidak bertahan lama, tidak merasakan hidup sebagaimana merstinya yang di ajarkan Amsal  “bersukacitalah dengan istri masa mudamu: rusa yang manis, kijang yang jelita; biarlah buah dadanya selalu memuaskan engkau, dan engkau senantiasa berahi karena cintanya.
Hidup tidak terasa, menyibukan hidup dalam kesibukan membuat tidak senantiasa bersama. Kini aku menyadari semestinya dia membutuhkan kehadiranku di saat dia menyendiri. Kesepiannya tidak ku temani, perasaannya seolah dia single.  Kesadarannya mendewasakan dia untuk tetap menantiku di saat aku pergi.
Hidup ini perlu dilengkapi dan melengkapi, kekurangan dan kelebihan saling mengisi. Itu nilai positif  kebersamaan hidup antara dia dan aku. Banyak hal yang saya tidak tahu ia mengajarku begitu juga sebaliknya. Sekarang tidak  memerlukan lagi guru.
Memasak, menyuci, menyapu, menyediakan dan mengatur dalam sebuah rumah tangga 70% pribadi saya dia, 30% bagian saya. Selama itu aku di manja oleh dia. Hal yang bisa saya lakukan   telah dilakukannya, aku hanya gagum dan senyum karena semua telah beres.

Lepaslan semua air mata di bilik rumah karena dia

Lepaslan semua air mata di bilik rumah karena dia

Kegagumanku kini berupa menjadi sedi dan lagi sepi. Aku tak lagi gagum dan senyum. Bersedi dan menangisinya di tepi sumur, di bilik rumah, di muka pintu, di tempat cuci, di kamar mandi, di jalan dan di tempat tidur.   Di saat aku disana seolah dia disampingku. Merenung dan membayangi dirinya aku tak mampu menahan air mata jatu berderai.
Tak lagi aku mengharapkannya; yang kuharapkan kini telah tiada. Tak muda kuperoleh seperti dia, memang anda sama hanya saja anda bukan dia lagipula aku masih mencintai dia yang telah tiada.  Maafkan aku, bukannya aku menolak; aku sudah punya. Walau dia telah tiada, dialah yang punya aku…
Kini saatnya belajar hidup mandiri.
Selamat jalan guruku, alhma, Ibu SINA T.S.RUHUNIAP.
Walau engkau telah pergi, semangat jaungmu selalu bersama kami. Tuhan Yesus, Allah bangsa Papua Barat membalas Jazamu.

 

Komentar Yali Voice

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s