WATI KOGOYA DI USIR OLEH KNPB SAAT BENTUK BMP DI YAHUKIMO


Aktivist Papua Merdeka di Yahukinmo, Gagalkan Upaya intelekjen NKRI mendirikan cabang Barisan Merah Puti di Dekai Yahukinmo, melalui Koordinator Wilayah Lembaga Masyarakat Adat sekaligus Kepala Barisan Merah Puti Se- pegunungan tengah Papua, M. Wati Kogoya

Erius Suhun: Tidak Ada Pelaku Pepera Di Yahukimo

 ??????????YAHUKINMO NEWS – Pada kamis, 6 Februari 2014, 08 : 48 waktu Papua Barat (WPB) Koordinator Wilayah Lemabaga Masyarakat adat provinsi Papua sekaligus Ketua Barisan Merah Puti (BMP) se-pegunungan tengah, Wati Kogoya melakukan pertemuan tertutup dengan kepala Dandramil TNI dari satuan Korem Dekai (WK), Ketua lembaga masyarakat Adat (LMA) kabupaten Yahukimo Rubanus Suhun, Kwaloho Ibage dan sejumlah kepala Desa serta beberapa orang tua (Orang tua yang tidak tahu membaca) di Hotel Yuliana Dekai Kabupaten yahukimo.

Wati Kogoya, sebelumnya di usir dari rakyat Papua di Yalimo, setelah diusir, Wati Kogoya berlindung di Kodim Wamena.

Wati yang merupakan buronan TPN Papua Barat pada tahun 2013, kini masih melakukan penghasutan kepada rakyat Papua. Black List tentang Wati Kogoya silakan clik disini :

http://tuantanahpapuanews.blogspot.com/2013/06/wanted-pro-nkri.html

http://suarabintangtimur.blogspot.com/2013/07/wanted-pro-nkri.html

Jadwal keberangkatan Wati diatur oleh TNI dari satuan Kodim Wamena sedemikian rupa. Dari Jayapura, militer NKRI TNI mengantar ke bandara sentani. TNI dari pangdam xii/cenderawasi jayapura menelphon kepada TNI di Kodim Wamena untuk menjemput Wati di bandara Wamena. Dari Wamena, Wati yang dikawal ketat TNI/Polri menujuh Yalimo. Missinya di yalimo untuk membentuk cabang Barisan Merah Puti (BMP) (lembaga milisi, yang menghasut rakyat Papua) gagal. Ia kembali ke wamena dalam pengawalan TNI.

Kepala TNI dari Kodim Wamena, telphon ke kepala Korem Dekai yang diwakili Wene Kogoya (anggota TNI korem Yahukimo) agar TNI dari Korem Dekai menjempunya di Bandara Dekai.

Pada 5 Februari Wati tiba di Dekai, TNI dari Korem Dekai menjemputnya di bandara. Wati bersama sejumlah anggota TNI melakukan pertemuan tertutup di Aula Korem Yahukimo.

TNI dari Korem Dekai, memberikan laporan kepada Wati terkait keberadaan beberapa jaringan NKRI di Yahukimo, misalnya LMA, agar wati   menghubungi mereka dengan mudah tanpa keterlibatan TNI supaya rakyat Yahukimo tidak mencuriga terkait kegiatan tersebut.

Usai pertemuan tertutup, Watipun diantar TNI ke tempat penginapannya di Hotel Yuliana Dekai.

Pada sore itu, Wati telphon ketua LMA Kabupaten Yahukimo, Rubanus Suhun.

Rubanus Suhun dan Wati Kogoya melakukan pertemuan di Hotel, disana mereka bicara terkait bagaimana dapat mengakomodir para kepala suku, kepala kampung dan sejumlah orang rata-rata diatas 50 tahun usianya.

(mereka itu kemudian mengatas namakan diri sebagai pelaku pepera 1969. Pepera yang dikenal dengan nama Act Of No Choice,)

Rubanus Sebagai ketua LMA bergerak sore itu dan menghubungi sejumlah orang tua seperti Kwaloho Ibage = dari Ditrik Soba, Sililip Kobak dari Distrik Holuwon dua kepala suku dari wilayah III, angguruk, 6 orang dari Distrik Holuwon, Seni Balingga dari Distrik Sumo, Kea Busup dari Distrik Korupun, Emius Molama dan Welius Kabak keduanya anak dari Kwaloho serta sejumlah orang lain.

Pada kamis, 06/02/2014, 08:48 melakukan pertemuan di Hotel. Agendanya mendata semua orang-orang tua di wilayah Yahukimo sebagai kepala suku pepera 1969.

peserta rapat mulai masuk ruangan, acara dimulai. Sebelum masuk acara inti wati kogoya memperkenalkan diri. Perkenalannya sbb :

Nama                : M. Wati Gogoya

Jenis Kelamin   : Perempuan

Status               : KawinDSCN0313 - Copy

Suku Bangsa     : Lanny – Indonesia

Asal Kabupaten : Tolikara

Kakak Dari       : Lenius Kogoya, S.Th, M.A Ketua LMA Provinsi Papua

Alamat/tinggal di : Jayapura

Anak dari : Lukas Enembe, S.IP, M.H, Gubernur Provinsi Papua

Utusan : Pusat (Jakarta)

Pekerjaan : Koordinator LMA dan Ketua BMP Se-Pegunungan Tengah Papua

 Usaia perkenalan Wati Kogoya mulai presentasekan materi. Materi sesuia presentase adalah tentang pendataan kepala suku PEPERA.

Di kabupaten Tolika, saya berhasil, dengan uang 6 milyar saya membangun masyarakat disana sebagai penghargaan sebagai kepala suku Pepera 1969. Yahukimo ini kita data baik, disini wilayahnya besar dan penduduk juga besar sehingga yahukimo akan dibangun dengan uang 12, milyar. Jelasnya, dengan nada memberikan suatu harapan kepada peserta.

Ini perjuangan, saya berjuang supaya nasib kepala suku pepera dapat diperhatikan oleh pemerintah. Jika semua kepala –kepala suku pepera ini di data baik maka pemerintah akan memberikan bantuan melalui saya. Saya berjuang disini mau perhatikan para kepala suku ini. Di daerah Pantai sudah rumah-rumah kepala suku sudah bangun. Ujar kogoya.

Setelah ia mempresentasekan materi, ia berikan waktu kepada perserta rapat.

EK, salah seorang kepala Desa yang juga Aktivist Papua Merdeka yang hadir dalam pertemuan ini mengajukan pertanyaan bertubi-tubi. Pertanyaan yng di ajukan seperti, berikur, silakan simak:

EK : Ibu utusan darimana?

Wati Kogoya: Saya anaknya Lukas Enembe, gubernur Papua. Saya datang melalui kesbang.

EK: Siapa nama kepala kesbang kabuapaten yahukimo ?

Wati Kogoya : Tidak menjawab. Alias tidak tahu nama.

EK: Tujuan apa ibu datang ke yahukimo?

Wati Kogoya : Mengambil data kepala suku pepera. Ini perjuangan.

EK: Menilai bahwa pendataan yang dilakukan Wati Kogoya di back up TNI adalah manipulasi data. Pendataan yang dilakukan Wati Kogoya di back up TNI dari Korem Dekai ini hampir sama dengan Pepera 1969, dimana waktu itu pemerintah dan militer NKRI mengumpulkan orang Papua yang pro – NKRI dan yang tidak berbahasa Indonesia, dan tidak dapat membedakan persoalan dan maksud para penguasa.

Photo : Wati Kogoya saat melakukan pertemuan tertutup dengan anggota TNI, ??????????dari Korem Dekai, 5 Februari 2014. Pertemuan ini, dinilai dibalik kedatangan wati Kogoya di yahukimo, di balik ini ada TNI yang bermain, sehingga EK, bubarkan semua peserta rapat, tiga orang kepala kampung ditarik keluar dari dalam rungan   rapat. Selanjutnya EK, koordinasi (telphon) dengan semua activist Papua merkdeka di Yahukimo.

Pada pukul 10.00 WPB, Aktivist yahukinmo ke Hotel dimana tempat mereka pertemuan. TNI yang mengawal wati, memberikan perlindungan dengan cara membawa Wati Kogoya berlindung ke Korem.

Para activist terus kejar sampai di Korem. Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Wilayah Yahukinmo, Erius Suhun yang dikawal oleh anggotanya langsung masuk di ruang Korem dimana Wati Kogoya terlindung, dan meminta memperjelaskan misinya ke kabupaten yahukinmo, kepada KNPB dan PRD di Wilayah tersebut.

Wati Kogoya, tidak dapat berbicara banyak, ia mengatakan apa yang dirinya lakukan adalah perjuangan. Saya datang disini untuk mengambil data para kepala suku pepera disini (baca : Yahukinmo). Karena ada laporan dari Apolos Suhuniap dan Salmon Walilo (ketua BMP, Wamena)

Ketika, ditanya ‘Siapa nama pimpinan kepala suku Pepera 1969. Di Yahukimo? Kamu datang kepada siapa? Mengambil data siapa? Meminta data/document kepada siapa? Tujuan apa? Jika tujuan untuk mengambil data para kepala suku pepera, kenapa ibu datang di institusi TNI? kenapa tidak melaui LMA atau Kesbang? Kenapa ibu pungut orang di jalan-jalan sembarang? Berapa orang yahukimo yang ikut memilih dalam pepera? Siapa nama mereka?

Berbagai macam pertanyaan dilembarkan. Wati tidak dapat menjawab berbagai macam pertanyaan dari Aktivist Papua merdeka di Yahukinmo. Ia takut dan keringat, gelisa dan kencing celana. Lebih jelas videonya telah di update pada link berikut ini, silakan clik disini : : SouthYallyChaneel : www.youtube.com/watch?v=9CKlOS1XKMg

Wene Kogoya, salah seorang Komandan TNI dari Korem Dekai yang terus mengaja Wati melihat ancaman activist dan rakyat serta kepala suku di yahukinmo menjadi ancaman bagi Wati. Pada sore itu, kamis 6 februari 2014, 15:00, Wati di antar langsung ke Bandara dengan mobil milik TNI Korem Dekai. dan dipulangkan ke wamena.

Para pengikutnya seperti Rubanus Suhun, Kwaloho Matuan dsn, tidak ikut sampai di kantor korem Dekai, mereka hilang satu persatu di jalan.

Penolakan kehadiran Wati Kogoya sebagai kordinator LMA dan ketua BMP sepegunungan tengah Papua oleh Aktivist Papua Merdeka di Yahukinmo karena  Sebelum Wati Kogoya di yahukinmo, ada informasi dari wamena bahwa Wati Kogoya datang ke yahukimo membentukan Barisan Merah Puti, karena dia itu kapasitasnya sebagai ketua BMP di pegunungan tengah Papua.

Wati bersama TNI, sudah bicara strategi sebelum pertemuan di Hotel Dekai. Sebenarnya wati datang bukan untuk mendata kepala suku pepera. Sebab di yahukimo, tidak ada orang yang perna terlibat dalam pepera. Dia datang untuk membentuk Barisan Merah Putih di yahukimo namun gagal dibentuk.

Pemuda Dan Aktivist Papua Merdeka, Meminta Agar Rubanus Meminta Maaf Kepada Para Orang Tua Atas Penipuan Serta Manipulasi Data Terhadap Sejumlah Orang Tua Sebagai Pelaku Pepera.

Pada 8, Februari 2014, tokoh pemuda dan activist dari klasis Holuwon Picture2melakukan pertemuan dengan melibatkan Rubanus Suhun sebagai ketua LMA kab. Yahukimo, Don Bahabol anggota LMA, untuk mempertanggung jawabkan aktivitas mereka yang melibatkan para orang tua. Semua pemuda dan activist menuntut agar Rubanus bertanggung jawab atas penipuan ini. Pemuda, dan aktisvist PM menilai bahwa Rubanus melakukan manipulasi data. Orang tua seperti Kwaloho Matuan, Sililip Kobak, Kea Busup dan teman-temannya, mereka ini bukan kepala suku pepera.

Pepera it terjadi di wilayah lain di papua bukan di yahukimo, jika mau ambil data kepala suku pepera, ambil saja data di Wamena. Dalam pertemuan yang berlangsung pada sabtu, 8/2/2014 08.00 sampai 14.30 ini memberikan penegasan.

Pertemuan yang dipasilitasi ketua KNPB wilayah yahukimo Erius Suhun ini, hadir juga ketua I, Komite Nasional Papua Barat (KNPB) wilayah yahukinmo , Aminus Silak, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Kabupaten yahukimo, Rubanus Suhun, anggota dan beberapa tokoh lain seperti activist PAPUA MERDEKA, anggota LMA, Don Kobak, pemuda serta tua-tua dari klasis Holuon.

PERNYATAAN SIKAP TERBUKA

=> Menolak berbagai tawaran pemerintah dan militer NKRI melalui jaringan LMA, BMP, LMRI-RI, dan sebagainya yang sifatnya menghasut Rakyat Papua di Wilayah Yahukinmo.

=> Barisan Merah Puti (BMP) Lembaga Missi Reglasering Republik Indonesia (LMR-RI) Tokoh PEPERA, dan sebagainya tidak boleh bentuk di Kab. Yahukinmo.

=> Di Yahukinmo, tidak ada pelaku sejarah PEPERA/kepala suku pepera. Sebab sejarah membuktikan bahwa :

* Peresiden RI, Suharto mengeluarkan tiga komando rakyat (trikora) yang isinya ialah : 1. Bubarkan Negara Boneka Buatan Belanda, 2. Kibarkan Sang Merah Puti di Seluruh Wilayah Papua, dan 3. Mobilisasi Umum.

Sesuia dengan komando ini, militer dan imigran NKRI dalam jumlah yang besar melakukan pengkondisian wilayah sebelum PEPERA 1969 dilakukan.

Untuk wilayah Jayawijaya Militer NKRI TNI/Polri tancapkan merah puti dari wamena sampai di gunung Sohosa.

Wilayah besar suku Yally, Kimyal, Meek, Unaukam, Ngalik dan Momuna serta beberapa suku lain di yahukimo tidak tahu tentang peristiwa pepera yang penuh dengan kejahatan Pelanggaran HAM Papua tersebut.

Pada tahun 1960 injil masuk melalui sending RBMU di wilayah Ninia. Delapan tahun kemudian Pelaksanaan PEPERA dilakukan di bawah ancaman, terror dan intimidasi yang dilakukan oleh militer NKRI di beberapa wilayah di Papua Barat, seperti di : Manukwari, Teluk Cenderawasih, Merauke, Yapen Waropen, Sorong, Paniai, Jayapura, Jayawijaya, dan Fak-fak.

Sebagian besar wilayah Papua tidak melakukan pemilihan atau memberikan hak pilihnya sesuia dengan hati nuraninya apakah Mau Merdeka Sendiri Seperti Sebuah Negara Yang Merdeka Layaknya di Muka Bumi atau Memilih untuk tinggal dengan Indonesia..??

Peristiwa pembunuhan missionaries Standale, oleh orang   yally di Lembah Seng pada September 1968 satu tahun sebelum PEPERA. Dengan demikian, maka pada tahun 1960 hingga 1969, orang tua kami orang Yally di wilayah yahukinmo masih sulit memperoleh segala informasi di banding di wilayah lain di papua.

Dengan demikian orang dari suku Yally, suku Hubla (khususnya orang Soba dan Kwikma) suku Kimyal, suku Meek, suku Unaukam, suku Momuna dan suku Ngalik serta beberapa sub-suku yang lain misalnya, suku Kopkaka, Beze dsn, siapapun dia, entah kepala suku, pemerintah, intelektual atau tokoh gereja yang mencari makan dengan NKRI dengan dali bahwa dirinya Pelaku Pepera, dan sebagainya adalah ILEGAL.

Mulai hari ini, (tanggal 8 February 2014), setelah berhasil menggagalkan upaya intelekjen NKRI mendirikan cabang Barisan Merah Puti di Dekai Yahukinmo, melalui Koordinator Lembaga Masyarakat Adat sekaligus Kepala Barisan Merah Puti Se- pegunungan tengah Papua, Wati Kogoya, tidak boleh ada pembentukan organisasi lain untuk kepentingan NKRI di Yahukinmo. Demikian penegasan dalam pertemuan itu.

Usai pertemuan, AK, salah seorang pemuda juga activist PM kepada yallyvoice mengatakan “Rubanus Suhun dia adalah ketua LMA kabupaten yahukimo, pandangan banyak orang dari suku lain di Yahukimo khususnya dan di papua umumnya bahwa Rubanus Suhun itu orang dari Distrik Holuwon. Sebagian rakyat Papua memandang kami sebagai pengikut pak Suhun ini, tetapi hari ini saya sampaikan bahwa “Rubanus itu ketua LMA di kab. Yahukimo dan pengarunya tidak sampai di akarumput. Di distrik Holuwon dimana asal Rubanus disana tidak ada organisasi lain selain Organisasi Papua Merdeka (OPM) , disana basisnya OPM. tegasnya.

Berita Terkait M. Wati Kogoya dapat di lihat pada link berikut, silakan Clik Disini :

Ketua BMP Pegunungan Tengah, M. Wati Kogoya:

http://sampari.blogspot.com/2010/05/ketua-bmp-pegunungan-tengah-m-wati.html

BMP Puncak Papua Telah Terbentuk

http://elshamnewsservice.blogspot.com/2010/04/bmp-puncak-papua-telah-terbentuk.html

ANALISIS YALIVOICE :

Kapolda Papua Tito Karnavian, Pandam Papua Cristian Zebua. Melakukan pendekatan persuasive dengan tokoh Agama dan Adat. Disana mereka bentuk Barisan Merah Puti, (BMP) Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Lembaga Missi Reglassering Republik Indonesia (LMR-RI) dan Militan Pemuda Indonesia (MPI) di dalam lembaga tersebut yang bekerja adalah orang Papua. Mereka terutama adalah anak-anak para Ondoafi, Kelapa Suku, Pendeta dan Gembala.

Kondisi Papua hari ini, hampir sama dengan kondisi terakhir di Timor Leste. Untuk Membuktikannya silakan Simak Kutipan Surat Terbuka Dosen Universitas Airlangga Surabay, Airlangga Pribadi Kusman Kepada Prabowo, tertanggal 29 June 2014.

Saya ingat tulisan sarjana Jerman Ingo Wandelt dalam karyanya Prabowo, Kopassus and East Timor (2007). Tahun 1995, catat Wandelt, sebagai seorang tentara Anda bertugas menangani persoalan sosial di Timor-Timur.

Anda terapkan Strategi Unconventional Warfare, dengan Membentuk dan Membiayai Milisi Sipil Garda Muda Penegak Integrasi. Awalnya organisasi ini merekrut pemuda untuk diajari baca tulis dan ketrampilan. Namun di kemudian hari, Garda Muda berkembang menjadi organisasi yang melakukan terror sebagai strategi perang urat syaraf terhadap penduduk di wilayah yang saat itu masih menjadi bagian dari Indonesia. Sumber: http://www.merdeka.com/peristiwa/dosen-unair-tulis-surat-terbuka-untuk-prabowo.html

berikut adalah photo kegiatan Wati Kogoya, upaya pembentuk BMP di Wilayah Yahukimo:

??????????

??????????

??????????

??????????

Komentar Yali Voice

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s