Di Papua Kasih & Damai Berlaku di Udara


West Papua Land

West Papua Land

 Kasih dan damai itu indah, demikian sepenggal kalimat militer Indonesia. Slogan itu di sosialisasikan melalui deretan spanduk hampir seantero tanah Papua. Penggalan kalimat itu muncul para pemikir Indonesia berputar otak, untuk mengutak atik Papua. Namun demikian ini muncul atas pengalaman inderawi para pemikir, bukan berdasar aspirasi rakyat Papua. Akhirnya apa? Para pemikir Indonesia membentangkan visi dan misi kepada rakyat Papua. Rupahnya militer Indonesia harus membayar setumpuk pengalaman buruk terdahulu. Mengapa? Slogan itu mempengaruhi juga oleh kebutuhan tertentu. Sehingga kebutuhan melalui slogan “Damai dan Kasih “ publikasih dimana-mana melalui berbagai media cetak dan electronic.

Kita tak kaget bila militer Indonesia memanjangkan tulisan pamphlet di sepanjang jalan kota Numbay, di depan tiap markas maupun melalui percakapan public, serta harian cenderawasih pos, bintang papua, siaran radio TV serta media komunikasi lainnya.

Demi kebenaran dan keadilan, sebenarnya Allah mendengar suara semua umat. Mulai dari suara kaum tertindas hingga suara kelas elit politik dan pejabat manapun. Jangan manusia suara komunitas binatang saja Allah mendengarnya. Namun setia suara manusia akan dipilah-pilah. Apakah benar adil atau bukan? Allah itu adil. Maka penghayatan iman dan pengalaman seseorang, sekelompok, komunitas, atau golongan kepentingan tertentu akan diadilinya.

Keyakinan demikian merupakan inspirasi mewujudkan   tanah damai dan kasih. Di Papua, sekalipun upaya promosi militer di sebar luaskan, namun keadilan dan kebenaran sejati akan tiba. Hasil perjuangan dan upaya menguasai tanah dan bangsa lain, melalui berbagai propoganda dan tipu muslihat akan di tentukan Allah, sehingga kebohongan akan menjadi ucapan bibir manis. Bagi rakyat Papua, nilai keindahan damai dan kasih oleh militer Indonesia adalah omong kosong besar. propoganda melalui berbagai tulisan dan pamphlet itu di nilai tidak berasal dari lubuk hati yang mendalam. Nilai estetik “damai dan kasih” masih belum menyentuh bagi jiwa maupun raga rakyat dan bangsa Papua di ujung planet bumi ini.

Komentar Yali Voice

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s